Berita Kampus

PKK UM Buton: Membangun Karakter Mahasiswa yang Berkemajuan

Kerja sungguh-sungguh dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dalam menghasilkan luaran yang mampu mendukung daya saing bangsa menuju bangsa yang berkemajuan terus diupayakan secara maksimal dan berkelanjutan. Dengan total 164 perguruan tinggi yang dimiliki, PTM tahun ini tercatat memiliki 600.000 lebih mahasiswa atau 10% dari jumlah keseluruhan mahasiswa di Indonesia. Upaya tersebut dimulai sejak awal mahasiswa memasuki dunia kampus melalui kegiatan yang memberikan dampak positif.

Di Universitas Muhammadiyah (UM) Buton sendiri, kegiatan awal yang diberikan kepada mahasiswa adalah kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus atau dikenal dengan PKK. PKK merupakan kegiatan khusus yang diberikan bagi para mahasiswa baru sebelum memasuki dunia kampus. Para maba terlebih dahulu diberi pengetahuan agar lebih mengenal kehidupan akademik dan non akademik di dalam kampus. Penyelenggaraan PKK dilaksanakan selama empat hari (14-17/09/2019) kepada 1.598 mahasiswa baru UM Buton. Kegiatan selama 4 hari dibagi dalam 2 sesi, hari pertama dan kedua untuk kegiatan pengenalan dunia akademik dan wawasan kebangsaan, sedangkan hari ketiga dan keempat diisi dengan training ESQ.

Materi tentang dunia akademik (pengenalan universitas, fakultas, program studi, perpustakaan, laboratorium, organisasi-organisasi kemahasiswaan) diisi oleh Rektor, para wakil rektor, jajaran Biro, dan fakultas di lingkup UM Buton yang juga memberikan penjelasan tentang kegiatan-kegiatan caturdharma perguruan tinggi muhammadiyah serta aktifitas non-akademik lainnya di institusi. Sedangkan materi wawasan kebangsaan dibawakan Kapolresta Baubau, AKBP. Hadi Winarno, S.I.K. yang memaparkan tentang peran generasi muda khususnya mahasiswa dalam membangun bangsa khususnya daerah. Dalam paparannya, Kapolres Hadi Winarno mengangkat kebesaran nama Buton sebagai daerah yang memiliki kekayaan warisan sejarah dan kebudayaan. “Adik-adik harus bangga menjadi bagian dari masyarakat Buton, sebab Buton terkenal akan warisan sejarah dan kebudayaan. Kita wajib menjaga dan melestarikannya. Adik-adik wajib mengetahui sejarah daerah ini termasuk para raja, sultan, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya, juga menjaga kelestarian bahasa daerah Buton”. Tegas Kapolres Hadi Winarno.

Kegiatan PKK di UM Buton sejak tiga tahun terakhir telah meniadakan proses perpeloncoan yang jauh dari suasana akademik dan karakter kaum intelektual. “Kami menghimbau kepada seluruh panitia untuk senantiasa menjaga ketertiban pelaksanaan KKA agar tidak dinodai dengan aktifitas-aktifitas kekerasan fisik dan perpeloncoan. Sanksi dari kemenristek Dikti sangat keras jika hal ini terjadi” ungkap Rektor Al Zarliani.

REKTOR UM-BUTON DR. WA ODE ALZARLIANI, SP., MM

Sejak dihapuskannya kegiatan perpeloncoan oleh Kemenristek Dikti, tercatat masih terjadi kasus perpeloncoan di beberapa perguruan tinggi yang menyebabkan dijatuhkannya sanksi bagi perguruan tinggi tersebut.

“Kita tidak ingin, hanya karena perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat (perpeloncoan), institusi mendapatkan sanksi. Kementerian tidak main-main dalam menjatuhkan sanksi, bahkan sampai kepada sanksi untuk tidak mengadakan penerimaan maba selama beberapa tahun” tambah Ma’ruf selaku ketua panitia PKK.

Upaya sungguh-sungguh UM Buton dalam melahirkan mahasiswa dan  alumni yang tidak sekadar memiliki knowledge dan skill, namun juga  para mahasiswa dan alumni harus memiliki kemampuan dalam mengolah emosi dan spritual question dilakukan melalui kegiatan training ESQ selama dua hari.

“Sejak tahun lalu, UM Buton berinvestasi dalam pembinaan karakter mahasiswa melalui ESQ melalui kerjasama dengan ESQ Group milik Ary Ginanjar” tambah rektor Al Zarliani.

Kegiatan PKK (termasuk training ESQ) sifatnya wajib diikuti oleh seluruh maba dan nantinya akan diberikan sertifikat, sedangkan bagi yang dinyatakan tidak lulus wajib mengulang di tahun berikutnya. (AS) Foto: Ferdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *