FGD UM Buton dan UNG Kaji Sistem Penulisan Hangul dalam Bahasa Ciacia untuk Pelestarian Bahasa Minoritas
Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton) bersama Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Kajian Penerimaan Sistem Penulisan Hangul dalam Bahasa Ciacia: Perspektif Sosiolinguistik dan Pendidikan untuk Pelestarian Bahasa Minoritas Berbasis Kearifan Lokal.”
Kegiatan FGD menjadi bagian dari Program Riset Kolaborasi Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Muhammadiyah Buton yang berfokus pada kajian bahasa daerah dan upaya pelestarian bahasa minoritas berbasis kearifan lokal. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Rapat Fakultas Agama Islam (FAI) UM Buton, Baubau, pada Selasa (06/10)
Kegiatan dibuka oleh Warek 1 Bidang Akademik UM Buton , Dr. Firman Alamsyah Mansyur, S.Pd., M.A.. Sebanyak 25 peserta mengikuti FGD tersebut. Peserta berasal dari kalangan akademisi, penutur bahasa Ciacia, dan mahasiswa, sehingga diskusi menghadirkan perspektif yang beragam antara kajian akademik dan pengalaman kebahasaan masyarakat penutur.
FGD membahas penerimaan sistem penulisan Hangul dalam bahasa Ciacia dengan menggunakan perspektif sosiolinguistik dan pendidikan.
Kajian ini menempatkan bahasa sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, penerimaan suatu sistem penulisan tidak hanya dapat dilihat dari aspek teknis penulisan, tetapi juga perlu mempertimbangkan konteks sosial, karakteristik penutur, kebutuhan pendidikan, serta nilai budaya yang melekat pada bahasa tersebut.
Kehadiran penutur bahasa Ciacia dalam FGD menjadi bagian penting dalam membangun diskusi. Pengalaman langsung penutur dapat memberikan perspektif mengenai penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari sekaligus membantu memperkaya pemahaman terhadap dinamika bahasa di masyarakat.
Selain penutur, keterlibatan akademisi dan mahasiswa memberikan ruang untuk melihat persoalan bahasa Ciacia dari perspektif ilmiah dan pendidikan.
Mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah persoalan kebahasaan dapat dikaji melalui penelitian. Diskusi juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman kebahasaan masyarakat dengan pendekatan akademik.
Dengan demikian, FGD tidak berhenti pada pembahasan sistem penulisan. Kegiatan diarahkan untuk menggali berbagai perspektif mengenai hubungan antara bahasa, masyarakat, pendidikan, dan pelestarian budaya lokal.
Kajian mengenai penerimaan sistem penulisan Hangul dalam bahasa Ciacia memiliki keterkaitan dengan upaya pelestarian bahasa minoritas. Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat dan memiliki nilai yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Melalui perspektif pendidikan, hasil kajian diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai berbagai aspek yang perlu diperhatikan ketika membicarakan keberlanjutan penggunaan bahasa daerah di tengah perubahan sosial.
Sementara itu, pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi penting agar upaya pelestarian bahasa tetap memperhatikan konteks budaya dan kehidupan masyarakat penuturnya.
FGD ini merupakan bagian dari Program Riset Kolaborasi Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Muhammadiyah Buton. Tim peneliti terdiri atas Prof. Dr. Suleman Bouti, S.Pd., M.Hum., Novriyanto, S.Pd., M.App.Ling., Ph.D., Dr. Masri, S.Pd., M.Pd., dan Acoci, S.Pd., M.Pd.
Kolaborasi tersebut kemudian diperkuat melalui Perjanjian Kerja Sama antara LPPM UM Buton dan LPPM UNG tentang Kajian Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah. Dokumen kerja sama menyebutkan bahwa kolaborasi diarahkan pada penelitian bersama, publikasi ilmiah, seminar, konferensi, dokumentasi, revitalisasi, pengkajian, serta publikasi hasil kajian bahasa dan sastra daerah. PKS - LPPM UM BUTONdan LPPM UNG…
Kerja sama juga membuka ruang bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, tenaga ahli, narasumber, dan peneliti. PKS - LPPM UM BUTONdan LPPM UNG…
Melalui FGD ini, UM Buton terus mendorong pengembangan penelitian yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat.
Keterlibatan akademisi, mahasiswa, dan penutur dalam satu ruang diskusi menjadi modal penting untuk membangun kajian kebahasaan yang lebih kontekstual. Perspektif masyarakat penutur dapat berjalan beriringan dengan pendekatan ilmiah dalam memahami persoalan bahasa.
UM Buton berharap kegiatan riset kolaboratif seperti ini dapat terus dikembangkan menjadi penelitian, publikasi, dokumentasi, dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berkontribusi terhadap pelestarian bahasa Ciacia dan kekayaan bahasa daerah.
Pada akhirnya, pelestarian bahasa bukan hanya tentang mempertahankan sebuah sistem bahasa, tetapi juga menjaga pengetahuan, identitas, dan kearifan lokal yang hidup bersama masyarakat penuturnya.
